Postingan

Pecundang Nafsu♂️♀️

Gambar
Sesaat sebelum laki-laki itu meniduri perempuannya. Ia mengucapkan sebuah janji kepada alam semesta, "aku perlu memuaskan diriku dari tubuhnya, setelahnya aku siap mati di atas cinta dari tubuh perempuanku yang lain." Sehari selepas ia bercinta dengan perempuannya, laki-laki itu mencari kepenuhan lain dari ketiadaannya. Ia bahkan mengutuk siapapun yang ia temui dalam kepalanya. Mengutuk siapapun yang berusaha menggenggam tangannya dari luka-luka dan murkanya yang kian hari kian memuncak tanpa alasan. Termasuk mengutuk "perempuannya" Yang telah ia tiduri semalam suntuk.  Berhari-hari sebelum ia memutuskan untuk mencari kepuasan di atas tubuh dari "perempuannya" dan tidak kepada perempuannya yang lain, laki-laki itu telah jatuh berkali-kali karena cinta yang sudah dibawanya dari bertahun-tahun yang lalu. Dengan penuh ketulusan dan keterbukaannya kepada "cinta dan alam semesta" Ia telah dibunuh oleh suatu kebohongan kecil. Ia kemudian bertanya,...

Mematung dihadapan waktu♀️♂️

Gambar
Kita tengah mematung dihadapan waktu. Menukar pecahan-pecahan perasaan kita masing-masing dengan waktu yang masih berdetak entah akan berakhir kapan. Dalam diam kita menciptakan keributan masing-masing. Kamu dengan pikiranmu dan aku dengan hati dan pikiranku sendiri. Kita berusaha menjadi genap dalam keganjilan yang tertulis jelas. Sebelum berakhir semua alasan-alasan yang kita kumpulkan hari ini, waktu masih terus berdetak, kita masih asyik bermain dengan diri kita sendiri, alam semesta tidak peduli dengan tempo, tempat, rasa, penyesalan, penyelesaian dan tidak peduli apapun juga dan kita masih mematung dihadapan waktu. Dihadapan waktu, ternyata segala sesuatunya tidak terjawab. Kita mematung. Telapak tanganku dan telapak tanganmu terkepal kuat menjaga keseimbangan antara pikiran dan hati masing-masing. Saya tidak bergerak, kau pun demikian. Dihadapan waktu, bahkan tanpa saksi, tanpa penjelasan dan tanpa diri kita yang sebenarnya, kita divonis menjadi sepasang raga yang tidak mampu ke...

Egosentrisme Tingkat Goblok-Tulisan dari hasil duduk bermenit-menit di toilet✔️

Gambar
Di bawah atap-atap langit yang berdinding akal-akal manusia yang dilapisi dengan egosentrisme tingkat goblok, saya tidak pernah berhasil memberikan asupan nutrisi bagi diriku sendiri. Seberapa banyak hasil interaksi lingkungan yang saya lahap mulai dari yang kurang garam, kurang asin, kurang pahit, kurang manis, atau yang lebih banyak manisnya. Tidak ada nutrisi yang bisa saya berikan untuk kepala dan tubuh saya. Sementara dibelahan langit yang lain, banyak yang hidup dengan dinding dari hati manusia berlapis kebaikan yang naif. Kata orang-orang tinggal di sana sangat tentram dan bahagia tidak mudah roboh bahkan hancur sekalipun tetapi kenyataannya tidak demikian. Belum beberapa hari saja, keaslian dari para penjelajah alam semesta yang katanya mampu menaklukan apasaja yang mereka temui, hanya basa-basi belaka. Tidak ada sehelai harapan mampu digenggam kemudian ditaklukkan. Omong kosong! Setelah berselang lama, di stasiun tempat di mana orang-orang biasa menabur benih dari kantong cela...

Puisi-Kepada Hujan dan Kenangan

Gambar
Kenanganku tergeletak di batas cakrawala, Seisi kota yang tidak seramai kepalaku, kebingungan menghindari genangan, Aku masih terpaku di sudut paling sunyi, memberikan berlipat-lipat nestapaku pada rintik hujan yang jatuh mengenai tubuhku.  Kata-kataku tidak berhasil didengarkan, sedang hatiku kebingungan mencari tempat persembunyian, Di sana terlalu ramai,  banyak kenangan tergenang tidak teratur. Di pandanganku sepasang mata berhasil terpejam, Menyerahkan diri ke cakrawala,  Mengalir seutuhnya,  sepenuhnya kepada hujan dan semesta. Tubuhnya mengalir dengan tenang, Kesia-siaan melebur bersama rintik hujan, Pecah dan berserakan di sisi kota yang sunyi, Kekalahannya menjelma menjadi rintik-rintik air hujan,  Sedikit demi sedikit,  segalanya lunas terbayar. Keramaian pada hatinya berhasil tenang, Luruh bersama rinai hujan yang melumat bibirnya dengan penuh kenikmatan. Sedang kepalanya berhasil menang,  setelah hujan dan kenangan yang berhenti meneriaki k...

Puisi-Terlanjur tidak selesai

Gambar
 Terlanjur tidak selesai. Aku mencintaimu dengan ketidakberdayaanku.  Di bawah lengkungan bibirmu yang menyatu dengan lautan,  Aku mencium aroma yang berbeda,  Terpancar dari matamu suatu keheningan yang mendesak keluar untuk berteriak, Memeluk kehilangan dengan tawa yang tidak terdengar, mencaci maki ingatan yang tidak berhasil kabur. Di telapak tanganku, sebuah kesia-siaan berhasil tergenggam tanpa pernah berhasil  terlepas, Aku mencuri ketenangan yang menggulung ketengah lautan, berteriak bersamanya, memecahkan jantungku yang tidak berhasil, Membunuh kepala kakuku yang tidak selesai, Aku mencarimu dengan ketidaktahuanku, Di bawah telapak kakiku sebuah kehilangan terukir jelas,  Penyesalan mengaliri tubuhku,  menjahit otot-ototku dengan ingatan yang tidak berhasil hilang, Aku mencari sebuah penyelesaian, Di atas batu-batu karang, aku menjemur jantungku yang tidak kunjung mengering, Tetesan-tetesan pilu masih mengalir dari bagian yang dilubangi ingata...

Maknai setiap tamparan bukan dengana Amarah tetapi Perubahan.

Gambar
Jejak temporalitas akan selalu membekas di setiap zaman. Meskipun perubahan yang semakin elit dan padat, namun dinding-dinding dan langit-langit cakrawala telah melukis berbagai kisah dan kenangan dalam temporalitas yang suatu waktu semua kisah, kenangan dan mimpi-mimpi itu akan meluap kepermukaan karena suatu alasan.  Misalnya meluap karena sebuah jepretan kecil dan sederhana namun telah mengandung begitu banyak kisah yang luar biasa hebat, kisah yang membawa kamu berdiri di tepat kamu berada sekarang, atau melalui sebuah cerita singkat (memori kita kemudian akan berlari ke masa lalu, menemukan kembali berbagai alasan dan jatuh bangun hingga kamu berada di sini saat ini) dan banyak hal lainnya. Manifestasi dari kisah dan pengalaman yang terus berubah di sepanjang waktu tersebut menciptakan perubahan besar dalam diri kita sendiri. Kemudian muncul sebuah pertanyaan ,  "Siapa saya kemarin untuk hari ini? Dan siapa saya hari ini untuk esok?" Pergulatan terus memb...

Perjalanan Anak Rantau Berani Berperang Melawan diri Sendiri.

Gambar
Berada di tempat yang jauh dari keluarga merupakan salah satu ujian kemandirian yang patut diacungkan jempol. Menghindari segala hiruk pikuk tanah kelahiran untuk sebuah tujuan yang mulia dan menjanjikan masa depan yang baik (yang sering saya dengar mereka mengatakannya seperti itu). Jika ditambah dengan tekad dari diri sendiri plus dukungan orang tua dan keluarga, maka ini adalah awal perjalanan yang baik dan memuaskan sebelum meletakkan jejak pertama. Di tanah perantauan, kita (Dalam berbagai tujuan, everything) dihadapkan pada berbagai tantangan dan pergolakan hidup yang kadang kita sendiri tidak memahami arah tujuannya. Pendapat dari berbagai sumber dengan dilatarbelangkangi alasan yang tidak masuk akal, seringkali kita terjebak dan melupakan untuk apa kita berada disini. Tantangan terhadap diri sendiri terus datang setiap hari. Bagaimana hari ini kau harus terlambat bangun karena aktivitas/kegiatan yang sangat padat yang sudah kamu lakukan sepanjang hari kemarin sehin...