Puisi-Terlanjur tidak selesai
Terlanjur tidak selesai.
Aku mencintaimu dengan ketidakberdayaanku.
Di bawah lengkungan bibirmu yang menyatu dengan lautan,
Aku mencium aroma yang berbeda,
Terpancar dari matamu suatu keheningan yang mendesak keluar untuk berteriak,
Memeluk kehilangan dengan tawa yang tidak terdengar, mencaci maki ingatan yang tidak berhasil kabur.
Di telapak tanganku, sebuah kesia-siaan berhasil tergenggam tanpa pernah berhasil terlepas,
Aku mencuri ketenangan yang menggulung ketengah lautan, berteriak bersamanya, memecahkan jantungku yang tidak berhasil,
Membunuh kepala kakuku yang tidak selesai,
Aku mencarimu dengan ketidaktahuanku,
Di bawah telapak kakiku sebuah kehilangan terukir jelas,
Penyesalan mengaliri tubuhku,
menjahit otot-ototku dengan ingatan yang tidak berhasil hilang,
Aku mencari sebuah penyelesaian,
Di atas batu-batu karang, aku menjemur jantungku yang tidak kunjung mengering,
Tetesan-tetesan pilu masih mengalir dari bagian yang dilubangi ingatan,
mengalir memenuhi pantai,
memenuhi lautan, memenuhi tubuhku yang terlanjur tidak selesai.
Pada tubuhku yang fana,
dan segala sesuatu yang jelas tertulis,
Semuanya terlanjur tidak selesai 😣
Nartypatria,
Kupang, Desember 2020

Komentar
Posting Komentar