Mematung dihadapan waktu♀️♂️

Kita tengah mematung dihadapan waktu. Menukar pecahan-pecahan perasaan kita masing-masing dengan waktu yang masih berdetak entah akan berakhir kapan. Dalam diam kita menciptakan keributan masing-masing. Kamu dengan pikiranmu dan aku dengan hati dan pikiranku sendiri. Kita berusaha menjadi genap dalam keganjilan yang tertulis jelas. Sebelum berakhir semua alasan-alasan yang kita kumpulkan hari ini, waktu masih terus berdetak, kita masih asyik bermain dengan diri kita sendiri, alam semesta tidak peduli dengan tempo, tempat, rasa, penyesalan, penyelesaian dan tidak peduli apapun juga dan kita masih mematung dihadapan waktu.

Dihadapan waktu, ternyata segala sesuatunya tidak terjawab. Kita mematung. Telapak tanganku dan telapak tanganmu terkepal kuat menjaga keseimbangan antara pikiran dan hati masing-masing. Saya tidak bergerak, kau pun demikian. Dihadapan waktu, bahkan tanpa saksi, tanpa penjelasan dan tanpa diri kita yang sebenarnya, kita divonis menjadi sepasang raga yang tidak mampu kembali. "Apa, Kita terjebak!" Kau berbicara setengah berteriak entah kepada siapa.

Kita masih mematung dihadapan waktu. Aku yang tidak tahu-menahu persoalan yang sebenarnya hanya ikut mematung. Berdiri kaku menyaksikan waktu yang terus bergerak. Berteriak tidak terdengar, meminta hati dan pikiranku untuk sejenak berdiam diri. Memberikan ruang kepadaku untuk meletakkan tanganku di dada dan siap mengatakan, "aku siap menghilang untuk beberapa waktu ke depan sampai matahari dan tubuhku tidak mampu kau tenggelamkan ke dalam puisi mu"

Kau masih mematung dihadapan waktu. Aku tidak tahu apapun tentang segala yang kau pikirkan. Teriakan pikiranmu yang sedang kau kendalikan atau tubuhmu yang memang tidak ingin bergerak untuk saat ini. Aku tidak tahu apa-apa. Kau tidak memberikan petunjuk apapun. Apakah ada penyelesaian? Atau kau sedang melepaskan tali yang mengikat pikiranmu di atas langit yang tidak terlihat? 

Kita masih mematung dihadapan waktu. Dengan bersusah payah tanpa suara, aku memberanikan diri bertanya. Bukan kepada waktu yang masih terus berdetak entah sampai kapan, bukan juga kepada langit yang tidak terlihat atau kepada semesta yang sedang menyaksikan sandiwara kita tetapi kepadamu yang tengah menatap langit dengan mata tertutup,"bolehkan aku menghentikanmu berpuisi? sebab kata-katamu yang tidak terdengar mampu menciptakan keributan di dalam hati dan pikiranku."


Dan aku tengah mematung dihadapan waktu,...






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egosentrisme Tingkat Goblok-Tulisan dari hasil duduk bermenit-menit di toilet✔️