Puisi-Kepada Hujan dan Kenangan


Kenanganku tergeletak di batas cakrawala,
Seisi kota yang tidak seramai kepalaku, kebingungan menghindari genangan,

Aku masih terpaku di sudut paling sunyi, memberikan berlipat-lipat nestapaku pada rintik hujan yang jatuh mengenai tubuhku. 

Kata-kataku tidak berhasil didengarkan, sedang hatiku kebingungan mencari tempat persembunyian,
Di sana terlalu ramai, 
banyak kenangan tergenang tidak teratur.

Di pandanganku sepasang mata berhasil terpejam,
Menyerahkan diri ke cakrawala, 
Mengalir seutuhnya, 
sepenuhnya kepada hujan dan semesta.

Tubuhnya mengalir dengan tenang,
Kesia-siaan melebur bersama rintik hujan,
Pecah dan berserakan di sisi kota yang sunyi,
Kekalahannya menjelma menjadi rintik-rintik air hujan, 
Sedikit demi sedikit, 
segalanya lunas terbayar.

Keramaian pada hatinya berhasil tenang,
Luruh bersama rinai hujan yang melumat bibirnya dengan penuh kenikmatan.

Sedang kepalanya berhasil menang, 
setelah hujan dan kenangan yang berhenti meneriaki kesunyiannya,

Dan kepadanya, semua berhasil pulang setelah padam.

Dan aku merasakan bulir-bulir air hujan membelai mesra tubuhku yang letih,
rasanya seperti tengah dipelukan, 
tetapi tidak tau siapa.

Kebingungan...
Aku berhasil pulang sebelum padam,

Nartypatria,
Kupang, Desember 2020





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egosentrisme Tingkat Goblok-Tulisan dari hasil duduk bermenit-menit di toilet✔️