Cerpen. Senja dan jejak
Bimoku sedang cantik-cantiknya menikmati suasana petang yang menurutnya cukup bersahabat untuk dinikmati dengan secangkir kopi hangat. Beranda rumah penuh dengan orang-orang yang duduk bersantai melepas lelah setelah seharian berpacu dengan segala harapan dan kenyataan hidupnya. Aku sendiri masih seperti biasanya. Menikmati beranda rumah yang tak cukup tenang, pepohonan, angin kencang dan sesekali suara anjing-anjing milik tetangga menggonggong, semakin membuat suasana kian bising. sangat tidak tenang bagi orang-orang yang tidak menyukai keramaian. Termasuk aku yang sedari tadi disini. "...Aku tersentak, ketika sepasang mata menatapku sendu dari arah cahaya senja yang hampir pergi. Sulit aku menebak, pemilik siapa sepasang mata itu. Samar-samar aku melihatnya di bawah terang cahaya senja. Berlawanan dengan arah cahaya, bagiku cukup sulit untuk menebak sosok siapa yang sudah sedari tadi menatapku dari sana... " Aku berusaha menebak sosok itu, tetapi menyad...