Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

Puisi || Penyesalan

Gambar
Penyesalan Ketika malam kembali menyulam angan dan mimpi-mimpi Aku masih terjaga hingga waktu membisikkan detik di penghujung malam Bukan aku menikmati setiap detik, menit pada jejak di seluruh malamnya Tetapi banyak resah masih beradu tanya butuh disuguhi Entah apa… Ketika malam hampir menyapu sisa-sisa bintang dan bulan yang masih menggeliat Aku menjatuhkan berjuta-juta butir emas putih dari mataku Memenuhi seluruh wajah dan tubuhku Iya… Aku kaya dengan luka dan kecewa yang masih tersisa Ketika malam hendak membangunkan fajar Bintang dan bulan mencari letak jiwaku  Aku masih bertatap pada ratap dan minta disuguhi asa Aku bukan sedang marah tetapi mengamati embun di pagi buta ketika jendela pada hatiku masih gelap Percuma dan sia-sia Berjuta-juta butir emas putih yang kuhasilkan nyatanya masih belum mampu menyembuhkan lebam. Fajar menyingsing, Aku masih saja "tersedu-sedu" @C_patria #ketika tengan malam adalah ketenangan dan menjat...

Syukur dan terimakasih untuk segala hal yang terjadi di tahun 2019 || Happy New Year🌻💚

Gambar
Terimakasih untuk semua kejutan dari tahun 2019 Adalah saya yang masih belum telanjang. Masih banyak hal, perkara, persoalan, kecurigaan, kebencian dan amarah yang melekat erat dalam diriku. Masih banyak dengki dan iri hati yang tertumpuk didalam diriku.  Yah.. saya belum sepenuhnya telanjang. Setelah melalui 365 hari yang panjang.  tidak !! Yang singkat.  Ada banyak kejutan, ada banyak tawaran, ada banyak perjalanan yang sudah saya lalui. Perkara cinta, cita, masa lalu, masa depan dan segalanya yang melekat dalam setiap keseharian saya. Segalanya tidak selalu berjalan sesuai ekspetasi. Segalanya tidak selalu nyata dengan harapan. Rasanya baru kemarin saya memulai 365 hari yang berhenti dihari ini. Rasanya baru kemarin saya berperang melawan setiap detik, menitnya waktu di setiap hari milik 2019. Berperang mencapai garis finish yang nyatanya belum benar-benar sampai. Masih sangat jauh dan panjang. Dalam perjalanan panjang itu, ada banyak kata, tindakan, ...

Puisi || Tentang Hujan

Gambar
Tentang hujan Hujan turun dengan derasnya.  Awan hitam pekat, aku penat. Bayanganmu jatuh bersama rintik-rintik hujan.  Tampak jelas, ketika aku berdiri memejamkan seluruhnya Rintik-rintik hujan jatuh dan membangunkanku Memejamkan bola mata dan isi kepala. Lalu membuka hatiku sebesar alam semesta ini Bersama rintik-rintik hujan, kau menjelajahi seluruh tubuhku. Menjelaskan maksud dari penatku pada pekatnya awan penghuni langit Bayanganmu membelai parasku, menyetubuhiku, hingga seluruhnya. Aku meluruh. Hancur. Riak tangis. Aku mati. Bersama rintik-rintik hujan, aku mengalir mengikuti bayanganmu berusaha menggapaimu,  Kau hilang bersama rintik-rintik hujan. Semesta membawamu atau hujan yang lebih dulu menyetubuhimu.  #Kristyn Patria

Puisi || Tentang Hujan

Tentang hujan Hujan turun dengan derasnya.  Awan hitam pekat, aku penat. Bayanganmu jatuh bersama rintik-rintik hujan.  Tampak jelas, ketika aku berdiri memejamkan seluruhnya Rintik-rintik hujan jatuh dan membangunkanku Memejamkan bola mata dan isi kepala. Lalu membuka hatiku sebesar alam semesta ini Bersama rintik-rintik hujan, kau menjelajahi seluruh tubuhku. Menjelaskan maksud dari penatku pada pekatnya awan penghuni langit Bayanganmu membelai parasku, menyetubuhiku, hingga seluruhnya. Aku meluruh. Hancur. Riak tangis. Aku mati. Bersama rintik-rintik hujan, aku mengalir mengikuti bayanganmu berusaha menggapaimu,  Kau hilang bersama rintik-rintik hujan. Semesta membawamu atau hujan yang lebih dulu menyetubuhimu.  #Kristyn Patria

Mama || Puisi || maaf dan terimakasih.

Gambar
Mama Mengasah harap tak putus asa Lekas pergi, lalu membawa pulang Ketika mentari masih menggeliat Ia bertatap pada petak dan pematang Apa aku peduli ? lekas pergi, pulang ingin mencari Menari tiada hasil Hanya memberi puas pada ingin dalam diri Mama  Memeluk penuh sujud Bersyukur untukmu yang hanya berdendang ria Mendekapmu yang menggigil Memberi kepuasan padamu yang meminta Apa aku peduli ? melepas pagi tanpa permisi Kau berlalu tanpa sujud syukur untuknya  Menyambut malam tanpa harap dan sujud terang baginya. Mama Menatapmu hangat dalam harap  Semoga menggapai langit yang masih dalam bayang-bayangmu Merekah senyum dalam doa Bola mata tak mampu menahan kedip  semogakan kau dalam naungan Apa aku peduli ? Menghilang tanpa pamit Menjejaki Jemari yang terus dicari  Padanya kau meminta dalam kehampaan Tak pernah ada hangat  Yang menggenggam pilunya Kau ! Hanya pulang, jika ingin.