Pecundang Nafsu♂️♀️
Sesaat sebelum laki-laki itu meniduri perempuannya. Ia mengucapkan sebuah janji kepada alam semesta, "aku perlu memuaskan diriku dari tubuhnya, setelahnya aku siap mati di atas cinta dari tubuh perempuanku yang lain."
Sehari selepas ia bercinta dengan perempuannya, laki-laki itu mencari kepenuhan lain dari ketiadaannya. Ia bahkan mengutuk siapapun yang ia temui dalam kepalanya. Mengutuk siapapun yang berusaha menggenggam tangannya dari luka-luka dan murkanya yang kian hari kian memuncak tanpa alasan. Termasuk mengutuk "perempuannya" Yang telah ia tiduri semalam suntuk.
Berhari-hari sebelum ia memutuskan untuk mencari kepuasan di atas tubuh dari "perempuannya" dan tidak kepada perempuannya yang lain, laki-laki itu telah jatuh berkali-kali karena cinta yang sudah dibawanya dari bertahun-tahun yang lalu. Dengan penuh ketulusan dan keterbukaannya kepada "cinta dan alam semesta" Ia telah dibunuh oleh suatu kebohongan kecil. Ia kemudian bertanya," Apakah wajar jika aku membunuh dan membiarkan darahnya mengalir dijalanan dan got-got busuk daripada aku harus melihat "CINTA" Yang bersinar dari matanya dan sinar itu ia berikan untuk menerangi orang lain?"
"Setelah aku memikul cinta dari tahun-tahun yang telah lalu, lantas dia mematahkan dan menguburnya dengan kebohongannya yang tidak akan pernah cukup dimengerti sebanyak apapun dia berusaha menjelaskannya."
"Perempuanku yang lain terlampau rakus akan cinta dan belaian-belaian nafsu, Apakah aku tidak cukup bahkan setelah seluruh diriku dipersembahkan di bawa telapak kakinya?"
Satu kenyataan yang tidak mampu ia bohongi. Selepas ia bercinta dengan "perempuannya", ia tidak bisa sedikitpun menutupi ketelanjangan dirinya dihadapan cintanya terhadap perempuannya yang lain. Semakin ia terpuaskan, semakin cinta itu mengalir dalam darahnya, mengisi hampir seluruh bagian kepalanya, dan berhasil mematahkan tulang belulangnya. Hingga akhirnya 'cinta' itu berhasil membuatnya tidak berdaya.
Ruteng, 2021☕
Komentar
Posting Komentar