Egosentrisme Tingkat Goblok-Tulisan dari hasil duduk bermenit-menit di toilet✔️
Sementara dibelahan langit yang lain, banyak yang hidup dengan dinding dari hati manusia berlapis kebaikan yang naif. Kata orang-orang tinggal di sana sangat tentram dan bahagia tidak mudah roboh bahkan hancur sekalipun tetapi kenyataannya tidak demikian. Belum beberapa hari saja, keaslian dari para penjelajah alam semesta yang katanya mampu menaklukan apasaja yang mereka temui, hanya basa-basi belaka. Tidak ada sehelai harapan mampu digenggam kemudian ditaklukkan. Omong kosong!
Setelah berselang lama, di stasiun tempat di mana orang-orang biasa menabur benih dari kantong celana dan isi dalam celana, berhamburan kesana-kemari. Tidak tau arah perjalanan yang mereka maksudkan itu ke mana. Seperti kehilangan akal dan tujuan.
Yeah, manusia di alam semesta ini memang suka berhalusinasi mental.
Kebingunganpun tidak menemukan jalannya. Ke langit yang saya tinggali atau justru kebelahan langit lain yang tidak sempat saya uraikan dalam tulisan ini.
Di dapur tempat di mana orang-orang biasa mengisi perut dan mengisi dahaga seksualitas mereka yang kerap kelaparan tak tau diri dan tidak tau tempat yang jelas, malah berlarian kesana-kemari tidak tau arah yang jelas. Sama bodohnya!
Banyak yang bercerita sembari menunggu nasi di tungku yang hangus terbakar angin (bukan badai Seroja 🙃) kemudian bercerita kepada ibu-ibu mereka, kepada arang yang tidak juga hangus terbakar, bercerita perihal dunia di luar sana yang selalu mereka yakini lebih memberikan kepuasan bagi dahaga seksualitas dan mengenyangkan perut mereka yang berhari-hari tidak terisi nasi hanya dengan janji-janji manis yang berhasil mereka pungut dari pintu-pintu pejabat atau dipinggir-pinggir trotoar dekat mulut-mulut para penjelajah yang haus kepercayaan dan pengakuan dari lingkungan yang sudah terlanjur terkotori. Terlanjur membusuk dengan kata-kata yang jatuh begitu saja dari langit penguasa, terlanjur menjadi jorok sekali gara-gara anak-anak kecil, orang-orang setengah baya yang sibuk mencari rema nasi di alas sepatu milik Pak noname.
Sementara yang sedang memuaskan birahi di kasur empuk milik tetangga, tengah terengah-engah sebab kepuasan yang didapatnya dari seorang kerabat dekatnya yang manis dan lugu. Kemudian dengan sintingnya, ia merencanakan hal-hal busuk yaitu perkelahian yang tidak akan pernah berujung yang penting ujungnya telah disentuh-sentuh, yang penting kepuasan birahinya sudah ia dapatkan. Sementara beberapa orang lain dari sudut ruangan tengah meraung-raung menyaksikan mereka yang tengah mencapai klimaks. Mereka bersedih sebab hati mereka tidak berhasil mendapatkan nutrisi dari dia yang tengah tersenyum sinis. Tidak peduli bagaimana mereka harusnya makan hari ini. Memasukkan makanan melalui kaki atau kepala mereka? Tetapi egosentrisme tingkat gobloknya sangat memprihatinkan. Yeah, kepuasan seksualnya terpenuhi tanpa mengurangi atau menambah rasa sakit. sama saja!
Sementara mereka yang tengah merapal doa-doanya di depan sebuah patung manusia yang cantik dan manis, sedang berpikir-pikir akan mengajukan pertanyaan apa kepadaNya yang hanya berdiri kaku. Tidak pernah bergerak meskipun mereka sudah terhitung ratusan kali datang berkunjung dan meminta (yang katanya dengan berbagai kalimat-kalimat indah yang tidak mampu diterjemahkan oleh siapapun juga kecuali oleh mereka sendiri, oleh hati dan juga kepala mereka sendiri). Sementara di sudut lain, di ruangan terbuka itu seorang anak kecil yang manis dan kelaparan bertanya, "Tuhan, apa kau tahu ke mana Ibuku membawa harapan-harapan kami yang belum sempat mendapat nutrisi yang dimuntahkan dari kepala Bapak?"
Narty Patria,
"Sekian saja. Pantau blog saya teruss eee. Ini hanya tulisan dari hasil duduk bermenit-menit dalam kamar mandi.
Kalau tidak goblok jangan dibaca. Tapi kalau terlalu goblok silakan dibaca."
Supaya tetap hidup!
selalu ku baca🌹🌹💚💚
BalasHapusTerimakasih partner yang baik🌹🧡
HapusKomentarnya juga syang😍