Cerpen || Covid-19 || Semoga Lekas Pulih, Bumiku.
Semoga lekas pulih, bumiku.
Kristina Nur Patria Krisna
***
Saya berjalan melewati terowongan, tempat dimana orang-orang biasa menunggu kereta untuk bepergian mengunjungi keluarga, sahabat, kenalan atau hanya sekedar menumpang untuk berhenti di stasiun berikutnya kemudian melanjutkan perjalanan.
Saya tidak berjalan sendirian, ada beberapa orang berada disana, tidak banyak seperti biasanya. Hanya beberapa orang saja. Mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sibuk menata perkakas make up kemudian dimasukkan dalam tas, ada yang menggorok lehernya sendiri kemudian melumati tubuhnya dengan darah dari lehernya sendiri, ada yang hanya sibuk menikmati sepotong roti sambil memandikan suami dan anaknya dengan air mata dari dirinya, ada yang sibuk mencabik daging-daging tubuhnya kemudian dibagikan pada setiap orang yang merintih kelaparan di hadapannya dan sebagian dagingnya disimpan untuk anak-anaknya.
Saya menatap mereka tanpa sedikit pun berkata-kata. Dengan tunduk dan perasaan memuakkan saya kemudian melanjutkan perjalanan.
***
Saya berhenti di persimpangan karena seorang anak kecil yang gila datang kepada saya dan berkata "berikan aku kepalamu!", "Tolonglah!" Saya butuh tempat untuk tubuhku!".
Saya belum menjawab permintaannya. Saya menatap anak kecil gila itu, memegang tangannya dan berusaha mencari letak kepalanya. Kemudian saya berkata "aku tidak punya apa-apa untuk bisa saya berikan kepadamu!" Kepalaku adalah tuan atas tubuh dan jiwaku". Mintalah kepada ibumu, kepalamu adalah tuan bagi tubuh dan jiwa ibumu. Anak kecil gila itu memegang tanganku, menangis dan berteriak sejadi-jadinya, air matanya memenuhi aspal, membanjiri trotoar dan jalanan.
"Tolonglah saya!" Teriaknya lagi kepadaku. "Ibuku mati, bumi ini sudah mencuri kepala Ibuku". "Tolonglah, tolonglah saya!". Saya masih diam saja. Tidak peduli dengan teriakan anak kecil gila itu, meskipun saya sadar air matanya sudah penuh di jalanan, banjir hingga selutut.
"Sial, enyahlah kau anak kecil!". Teriakku padanya.
"Kau tahu, seminggu yang lalu saya berjalan-jalan disini bersama ibuku, membeli banyak mainan dan baju-baju. Cerita anak kecil gila itu sambil berteriak-teriak. "Tetapi hari ini mainanku hancur dan baju-bajuku hilang. Ibuku juga hilang"!, "Tolonglah!".
"Dimana Ibumu?" Tanyaku dengan suara yang sedikit membentak.
"Dia disana, mereka membawanya pergi, mereka membungkus ibuku dengan plastik!" Ibuku sudah mati...!" Suaranya pelan hampir tidak terdengar.
Anak kecil gila itu kemudian tertunduk dan meninggalkanku sambil tersedu-sedu.
***
Dengan perasaan terpukul saya melanjutkan perjalanan, belum seberapa langkah anak kecil gila itu datang lagi kepadaku dan berkata "ketahuilah, kemarin ibuku ditikam amarah bumi ini". "Ketika aku bertanya, ibuku bilang dia yang salah. Kemarin, Banyak kabel-kabel yang terpasang di tubuh ibuku, setiap menit ia berusaha tersenyum kemudian batuk-batuk lagi.
Saya hanya berdiri dan mendengarkan semua cerita anak kecil gila itu.
Saya hanya berdiri dan mendengarkan semua cerita anak kecil gila itu.
"setelah beberapa jam kemudian", lanjutnya... "kabel-kabel yang melilit lengan dan tubuh ibuku, malah bergerak dan melilit lehernya, kabel-kabel itu kemudian berjalan sendiri ke dalam mulut ibuku. Saya hanya menangis memperhatikan semuanya. Tetapi mereka bilang, kabel itu akan berjalan ke paru-paru ibuku dan berusaha membuatnya menjadi baik-baik saja".
"Aku kaget dan menangis ketika mata ibuku terbelalak seperti tidak berdaya dan sesak. Selang beberapa menit kemudian, ibuku tertidur!". "Itu yang mereka ceritakan kepadaku dan saya tidak mengerti maksudnya.
"Jadi tolonglah, berikan aku kepalamu". Agar saya bisa mengerti semuanya. Agar saya bisa menemukan kembali ibuku, dan mengambil kepalanya untukku", "tolonglah…"
***
Saya tiba di sebuah gedung bertingkat yang sudah hampir rapuh seluruhnya. Kemudian berhenti disana. Saya duduk di di bangku taman tepat di depan gedung tua itu, sembari membenarkan sedotan minuman dari supermarket yang dicampur dengan air mata anak kecil gila tadi. Gedung itu mewah, tetapi sudah berlumut. Tembok-temboknya tidak terlihat retak sedikitpun. Hanya saja, sudah berlumut dan licin. Lantainya putih tetapi banyak bekas kaki-kaki kotor dan bercak-bercak darah. Lorong yang saya lihat tepat dari bangku taman tampak suram dan menakutkan. Sesekali saya mendengar suara orang berteriak dari dalam sana, ada yang menangis sambil memukul orang-orang yang mengenakan baju putih dan berantakan. Ada yang sibuk keluar masuk gedung sambil mengumpulkan sisa-sisa harapan dari orang-orang yang terkapar, ada yang berteriak sambil melilitkan kabel infus di lehernya agar bisa tenang kemudian tertidur, ada yang hanya diam saja kemudian meneteskan air mata sambil berdoa agar diberikan jalan bagi luka-luka dan sesaknya.
Nb
Saya hanya memperhatikan aktivitas mereka tanpa apa-apa, tidak mengeluarkan kata-kata atau apapun, hanya duduk saja dan sesekali menarik nafas dalam-dalam kemudian berdiri dan menghembuskannya. "Masih sesak dan menakutkan, pikirku.
***
Karena penasaran dengan segala yang terjadi disana, Saya berjalan menghampiri gedung tua itu. Ketika saya sampai di pintu gedung itu, Saya kaget melihat para orang tua, anak-anak dan istri dari orang-orang melototiku dari atas tempat tidurnya, memaki-maki, menunjuk-nunjuk kepadaku dan yang lainnya mengutukku agar saya segera menghilang dari sana. Sementara didalam ruangan yang lainnya, banyak para perempuan dan lelaki mengenakan banyak pembungkus ditubuhnya, mata mereka ditutupi oleh kacamata yang tebal dan besar hampir tidak terlihat bagaimana bentuk dan warna bola matanya. Mereka berdiri disamping tempat tidur dengan gemetar dan ketakutan sambil memegang pisau yang mengarah ke leher mereka.
Para orang tua, anak-anak dan para istri dan suami dari orang-orang tadi berhenti melototiku ketika sampai di ruangan yang ditinggali para perempuan dan laki-laki yang dibungkus tubuhnya. Mereka diam saja, tubuh mereka lemah dan tidak berdaya. Mereka tidak banyak bertanya ketika kapsul, kabel dan perabot-perabot lain diatur dan dipasang mengelilingi tubuh mereka. Mereka benar-benar diam dan lemah, bola matanya berusaha mencari harapan yang tidak ingin ditinggalkan. kepala dan tubuh mereka terus memaksa untuk tetap menyatu, jiwa mereka terus berusaha melahirkan kekuatan dan semangat. Banyak dari mereka berusaha menghidupkan mimpi dengan berusaha menarik banyak cinta, kenangan dan kasih sayang dari masa lalu, sebagian orang lagi terus mengusap air mata yang enggan untuk berhenti mengalir.
saya hanya berdiri memperhatikan mereka, tanganku meremas kotak minuman tadi sampai kotaknya hancur. Suasana menyeramkan itu membuat saya terdiam dan merasa seketika saja semuanya terlihat suram dan benar-benar menakutkan.
***
Saya berlari ketakutan menuju ke taman tempat saya duduk. Seketika tubuhku gemetar, air mataku jatuh.
"Apa yang terjadi ?" Gumamku.
Saya duduk di bangku taman memegangi lutut yang gemetar, mengatur nafas agar tidak terengah-engah dan tunduk sambil memikirkan segala yang saya lihat.
"Dunia ini benar-benar menakutkan. Mengapa semuanya berubah? Rasa sakit dan air mata terus berserakan dimana-mana. Mengapa ? Apa yang terjadi ? Apa yang harus dilakukan ?
"Tolonglah, tolonglah kami".
Setelah merasa cukup tenang saya teringat kepada anak kecil gila tadi. Rupanya anak kecil itu berlari setelah melihat segala yang saya lihat sekarang. Sial !
"Semoga lekas sembuh, Tuhan bantu mereka di dalam sana dan bantu kami untuk menyelesaikan semuanya".
"Segala sesuatu di muka bumi ini tidak pernah melebihi kuasaMu". Saya termenung dan menjatuhkan air mata (lagi).
***
Setelah semua yang saya saksikan di jalanan, di persimpangan, dan di gedung mewah yang berlumut, banyak harapan yang lupa jalan pulang, banyak mimpi yang sia-sia, banyak jiwa yang mati, banyak para orang tua, anak-anak, orang dewasa, suami dan istri dari orang-orang, banyak perempuan dan laki-laki yang membungkus tubuh mereka dengan jubah putih dan kabel yang hidup dari telinganya berusaha melawan kerasnya kehidupan ini. Berperang melawan ketakutan dan rasa sakit. Pisau-pisau dan tombak yang datang dari banyak tempat tidak semuanya mampu ditangkis, sedikit demi sedikit kekuatan dari cinta terkikis, banyak air mata yang membasuh ketakutan, banyak yang terluka dan mati sia-sia. Juga banyak keegoisan orang-orang yang tidak patuh pada mereka dan orang-orang besar, menambah banyak korban dan rasa sakit.
***
Setelah berpikir cukup lama, sedotan dari supermarket yang dicampur dengan air mata anak kecil gila itu sudah hancur, aku pulang. Mengunci diri dalam rumahku. Tidak banyak yang aku perbuat hanya terus merapalkan banyak doa dan harapan untuk bumi dan orang-orang banyak diluar sana, untuk keluarga sahabat, dan kenalan. Kemudian memberi makan kepala dan hatiku lalu untuk orang lain.
"Semoga lekas pulih!".
Kristyn Patria
Kupang, 22 Maret 2020.
Banyak yang sakit, banyak yang terluka, banyak harapan yang mati sia-sia..
Mari saling berdoa dan menjaga. Semoga kita selalu dalam keadaan baik.
Mari berdoa untuk saudara dan sahabat kita yang terkena covid-19. Mari berdoa untuk orang-orang yang masih dengan setia menjalankan tugas dan aktivitasnya untuk kita dan untuk bumi.


ππ
BalasHapusπΉπ§‘
Hapus