Cerpen. Marta dan mimpinya
Bukankah hidup terlalu naif jika pergerakan kita selalu dijadikan sebagai buah bibir. Aku heran saja, ekspektasi kita tentang banyak hal selalu saja mendapat cibiran ketika kita berusaha untuk merealisasikannya. Kita harus patah semangat setiap hari, gara-gara komitmen kita jadi bahan ejekan. Bukankah itu cukup menyakitkan ? Tanyaku pada Maria, ketika ia sibuk membenarkan kayu di tungku api.
Aku baru saja menemui Lukas, untuk meminta pendapatnya tentang mereka itu. Apakah menurutmu aku salah jika aku terus melakukannya ? Tanyaku lagi pada Maria. Ia tidak menjawab pernyataanku. Maria sibuk menjerang air di periuk tanah yang aku rasa sudah berjam-jam air itu di masaknya tetapi belum juga mendidih.
"Kayu api sudah hampir habis Maria!". Bentakku padanya karena tidak mendengarkan apa yang aku sampaikan.
"Sudahlah Marta berhentilah berceramah disini. Aku ingin menyelesaikan semua pekerjaanku. Kau tidak pernah membantu. Kau hanya sibuk dengan dirimu sendiri. Kau hanya sibuk mendengarkan mereka. Apakah kau mendapat keuntungan setelah berceramah panjang lebar didepanku? Apakah ada sebagian dari dirimu yang ikut hilang bersama dengan ejekan dan cibiran mereka itu ? Sadarlah Marta. Tanyakan pada dirimu sendiri. Kamu luar biasa selama ini. Hanya saja mereka tidak tau, apa yang kau rasakan setelah melakukan semuanya. Mereka tidak tau bagaimana perasaanmu setelah melepaskan semuanya dan meletakkan semuanya diatas batu di ranjang kita (milikmu)". Maria memarahiku panjang lebar dan masih membetulkan posisi kayu apinya.
"Aku rasa benar yang kau sampaikan Maria. Meskipun setiap hari kau menjawabku dengan nada marah dan tidak pernah menatap wajahku dan tersenyum, kau selalu saja memberikan pencerahan. Terima Kasih Maria. Kau selalu menjadi Saudaraku yang istimewa, kau selalu memberi cahayaku ketika aku benar-benar tidak mampu menembus gelap di tengah malam yang sunyi dan kesepian. Terimakasih Maria". Maria tidak memperdulikanku, ia sibuk dengan tungku api dan air yang dijerangnya.
-------------
Aku meninggalkan Maria di gubuk kecil itu. Sebuah gubuk beratap jerami yang sudah reot. Ketika hujan datang, kami harus menahan lapar karena air hujan akan membasahi tungku api. Dan terpaksa kami tidak memasak apapun untuk makan.
Aku pergi ke pamanku Matius. Disana adalah tempat dimana aku bisa menyelesaikan semua penatku. Didalam ruang baca milik pamanku, aku duduk seorang diri memikirkan apa yang disampaikan Maria kepadaku. "Kamu tidak perlu memperdulikannya".
Iya.
Itulah yang akan aku lakukan. Aku tidak peduli mereka mengataiku tidak berguna karena setiap hari hanya sibuk mengurus ranjangku. Bagiku ranjangku adalah diriku yang lain dengan seluruh seluruh kisahnya. Lalu, apa yang salah?
-----
Paman duduk bersila di beranda rumah, asap rokoknya mengepul ke angkasa ingin menyetubuhi langit, kopi pada cangkirnya sudah habis. Paman menatap langit tanpa peduli kepadaku yang sudah sedari tadi duduk memperhatikan raut wajahnya. Paman sepertinya sedang gusar, gumamku. Padahal aku ingin menceritakan banyak hal kepada paman. Bagiku dia adalah pendengar yang baik selain Maria yang hanya diam saja ketika aku mengeluarkan semua isi kepalaku dan tiba-tiba memberi nasihat dengan nada marah dan lantang (Maria memang begitu).
"Paman aku ingin menjemput bianglala di kesunyian, ada banyak rintik hujan dan langit suram yang aku abaikan begitu saja. Jika saja banyak yang sudah aku nikmati selama ini, si bianglala yang membentang di hutan belantara sebelah Timur dari desa kita ini pasti akan datang (lagi)". Paman tidak mempedulikan segala hal yang saya sampaikan. Ia masih memegang sebatang rokok yang sudah habis habis, cangkir kopi miliknya sudah menjadi makanan bagi semut-semut merah. Ia masih tidak peduli.
"Paman"!
Panggil ku dengan nada yang cukup keras dan sedikit membentak. Paman Markus menoleh kepadaku tapi tidak terlihat kaget sedikitpun (mungkin paman hanya berpura-pura saja, karena biasanya paman begitu), ia meletakan rokoknya diatasi cangkir yang sudah kosong. Kemudian balik dan mukanya menghadap kepadaku.
"Kau pasti tau apa yang harus kau nikmati. Perihal bianglala atau ranjang yang selalu menjadi makanan ringanmu Setipa hari, teruslah kau menikmatinya"
"Marta, Maria sudah menceritakan semuanya kepada paman. Sepulangmu dari sini. Pergilah kehutan belantara tempat bianglalamu berada. Kamu akan menemukan yang sedang kau cari. Disana kamu akan menjadi abadi. Kata paman kepadaku, sambil menatap lekat ke bola mataku yang tidak berkedip mendengarkan semua yang disampaikannya.
"Bagaimana caranya paman"? Tanyaku lagi.
"Hatimu adalah hutan belantara yang sedang kau cari.
"Mengapa bertanya"?
"Kau hanya sedang bimbang mencari jalannya. Ada bianglala yang kau cari disana. Dihatimu"
"Sekarang pulang dulu, katakan pada Maria betapa kau mencintainya dengan segenap hatimu". Nasihat Paman menjalari seluruh tubuhku. Aku tidak tau bagaimana caraku menemukan yang ingin aku dapatkan. Bagiku dunia ini terlalu egois, membungkam ketika kau bertanya dan berteriak ketika kau terdiam. Selalu saja seperti itu.
…
"Baiklah Maria, aku akan terus-menerus melahirkan cerita tentang diriku sendiri, tentangmu, tentang paman, ataupun tentang orang lain".
"Cerita yang dilahirkan, akan aku tempatkan di atas batu yang terletak dibawah kasur tempat tidur kita".
"Dan aku akan menyulam puisi setiap hari. Menyulam bukan dengan benang milik pamanku, atau benang milikmu, tetapi dengan jiwa yang hidup di dalam tubuhku".
"Aku akan menyiapkan ranjang yang menjadi tempat tidur bagi syair puisiku, menghiasinya dengan berbagai rima yang berirama sehingga siapa saja yang akan menempati ranjangku, mereka tidak ingin bangun. Hanya ingin terus terlelap disana dan bermimpi". Aku menyampaikan semua harapanku kepada Maria dijendela dekat petang yang hampir pulang.
"Lalu bagaimana dengan mereka?" Tanya Maria kepadaku.
"Aku akan menerima mereka dengan senang hati, membiarkan mereka menempati sisi terbaik dari ranjangku, menikmati puisiku dan tertidur di sana. Agar mereka juga tau siapa aku dalam diriku yang sesungguhnya"
Maria tersenyum dan aku memeluknya.
-----------
Komentar
Posting Komentar