Cerpen. Selangkanganku terbungkus Kertas Rupiah

Selangkanganku terbungkus kertas rupiah

Saya baru saja keluar dari hotel berbintang lima yang terletak tak cukup jauh dari pusat kota ketika ibuku melewati jalan di depan hotel dengan memikul peralatan semir dan sol sepatu. Agar tidak diketahuinya saya masuk kembali kedalam hotel dan duduk di kursi tepat di samping resepsionis hotel.
Ibuku adalah seorang petani, ia tidak mempunyai penghasilan tetap. Agar bisa memenuhi kebutuhan saya dan adik saya sehari-hari, Ibu bekerja sebagai pembantu, pembersih jalan, semir sepatu, menjahit dll di setiap rumah-rumah yang ada di kampung saya. Ibu akan bekerja ketika pemilik rumah membutuhkan tenaganya. Jika tidak ada keluarga kaya yang memberinya pekerjaan, ia akan berjalan-jalan dipinggir jalan, ke rumah-rumah untuk menawarkan diri bekerja, atau menawarkan sepatu orang-orang untuk disemir.
Seperti itulah pekerjaan ibuku. Kami hanya hidup bertiga, Adikku Rita dia baru berumur 2 tahun, dan saya seorang siswi SMA kelas 2. Ayah kami pergi meninggalkan kami setelah ia menanamkan benihnya di rahim ibuku dan hasilnya adalah Adikku. 
Setelah ayah menghilang, kami hidup dengan tenang, ibu bisa bekerja dengan senang hati tanpa harus memikirkan tubuh dan jiwanya yang selalu tersakiti. Ketika ayah masih hidup bersama kami, Ibu adalah pembantu dan obat penenang bagi hasrat birahi ayah. Ayah tidak pernah bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari, pekerjaannya hanya bermain judi dan mabuk-mabukan. Ketika pulang berkumpul dengan teman-temannya dalam keadaan mabuk dan emosi yang memuncak akibat kekalahan yang besar dari perjudian, maka ibu akan menjadi pelampiasan amarahnya. Ia akan menendang perut Ibu, membentur kan kepalanya di tembok rumah kami. Jika ibu melawan atau mengeluarkan satu kata untuk menjawabnya, maka ayah akan melemparkan peralatan dapur mengenai seluruh tubuhnya. 
Ibu tidak pernah menangis di hadapan saya dan Rita, sebelum ayah pulang ia akan menyuruh kami untuk masuk ke kamar dan mengunci diri di sana sampai ayah tertidur atau keluar lagi tengan malam untuk mencari kepuasan birahi pada wanita jalang yang ditemuinya.
 Suatu hari ketika Ibu baru pulang bekerja keliling desa untuk semir sepatu, mencuci pakaian tetangga dan pekerjaan lainnya, ibu membawa cukup uang hasil keringat dan kerja kerasnya. Sebelum pulang ibu membeli nasi dan sedikit lauk-pauk untuk saya dan Rita, tidak lupa ia menyimpan sebagian untuk ayah. Ibu sampai dirumah sekitar pukul 21.00 dan sampai jam itu ayah belum pulang. Karena ayah belum pulang maka ibu mengajak kami untuk makan malam terlebih dahulu karena esoknya saya harus sekolah dan Rita harus segera tidur. Setelah makan malam, saya da Rita langsung istirahat sedangkan Ibu duduk menunggu ayah di dekat tungku api. Sebelum kami tidur, disamping tempat tidur ibu menemani kami sambil menceritakan banyak hal mengenai perjalanannya sepanjang hari itu, mendengarkan bagaimana ia disambut hangat oleh orang-orang yang menerima dia untuk bekerja. Dari ceritanya saya tidak mendengarkan sedikitpun cerita pahitnya. Ia bercerita seolah-olah ia menikmati seluruh pekerjaannya hari itu. Sekitar pukul 23.15 saya mendengar ibu menangis di depan tungku api sambil mengutuk dirinya sendiri. Mengutuk segala hal yang terjadi dalam keluarga kami. Hebatnya dia tidak pernah mengalahkan ayah, ia menyampaikan ujud untuk ayah agar segera diberikan pengampunan kepada ayah dan memohon agar ayah berubah menjadi orang baik dan peduli kepada kami. Pukul 01.30 dini hari, ayah pulang. Dalam keadaan mabuk, ia mendobrak pintu dan langsung mencari Ibuku, menamparnya dengan sangat keras sampai kepala Ibu terbentur di tembok dan terjatuh. Dalam keadaan seperti itu, ayah menyuruhnya berdiri dan mengambil Periuk yang terletak disamping tunggu dan memukuli kepala ibu sampai berdarah.
"Dasar perempuan pelacur, perempuan hina, Perempuan tidak berguna"
"Menikahi wanita jalang seperti kamu adalah penyakit keras dan rasa sakitnya menjalar setiap hari di seluruh tubuhku". Itulah penghinaan ayah terhadap Ibu setelah ia memukul kepala ibu dengan periuk. Banyak penghinaan yang disampaikannya malam itu. Saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Ibu. Setelah mendengar penghinaan tersebut, saya mengintip dari kamar melalui celah dinding bambu, ibu masih duduk terpaku di pinggir tungku api dan tangan kirinya memegang kepalanya yang masih berdarah. Tidak ada setetes air mata yang jatuh membasahi pipinya. "Kau wanita hebat, memiliki 1001 kekuatan pada jiwamu" bisikku dalam hati sambil menangis memperhatikan Ibu.
"Cepat, buka bajumu dan layani saya, saya ingin menikmati selangkanganmu, hanya itu yang bisa memberi saya kenikmatan dari tubuhmu, sisanya adalah sampah bagiku". Suara ayahku begitu keras sambil ia menarik punggung baju ibuku ke kamar.
Saya tidak bisa menghentikan air mataku, saya tidak bisa membiarkan ibu seperti itu. Aku bersumpah akan membunuh ayahku dengan tanganku sendiri.
Ibu menuruti perkataan ayah, meskipun saya tahu ia sudah sangat lelah setelah bekerja seharian hanya untuk bisa melihat kami menikmati makanan dengan sedikit lauk-pauk.
Seperti Itulah yang terjadi pada kami selama ayah hidup bersama kami 20 tahun lamanya. 

Setelah 1 jam saya duduk disamping resepsionis hotel, saya keluar dan menuju ke rumah sahabatku Tara. Aku mengganti pakaian yang saya kenakan untuk ke hotel dengan pakaian Cleaning Service dari sebuah kafe di tengah pusat kota kemudian pulang kerumah.
Sekarang saya bekerja sebagai seorang Cleaning Service di sebuah kafe setelah lulus SMA Karena ibu tidak mungkin mampu membiayai sekolahku. Karena saya bekerja shift di kafe tersebut dan saya mendapat shift siang, maka pada malam harinya saya akan pergi ke istana Mama Jenong untuk bertata rias dan siap melayani pria yang ingin melampiaskan nafsu birahinya kepadaku. Uang hasil dari pekerjaanku sebagai pelacur, aku menabungnya dan memberi makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari kami dan menolong jiwa dan nyawa orang-orang yang masih berserakan.
Awalnya aku memilih untuk bekerja paruh waktu dan menabung hasil kerjaku untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Tetapi semua impian itu sirna dalam waktu semalam akibat seorang laki-laki bejat teman ayahku yang ingin menagih hutang jutaan rupiah pada ayahku,meminta bayaran dengan memberikan selangkangan ku sebagai gantinya. Ia menikmati tubuhku pada malam suram itu, paha dan seluruh inci dalam tubuhku habis dilumat oleh nafsu birahi yang tidak bermoral dan tidak berperasaan sama sekali. Saya tidak pernah menginginkan hal itu terjadi, laki-laki bejat itu membawa saya lari ke bangunan tua bekas pertokoan dekat sekolahku dan menghabiskan seluruh hidup dan harapanku disana. 
Ibuku merasa sangat hancur dan kehilangan harapan sama sekali. Aku baru melihat rasa sakit yang besar pada wajahnya. Melihatnya menjatuhkan air mata pilu karena kehormatanku harus dihabiskan dengan cara yang tidak pantas. Aku bisa melihat pada wajah ibuku rasa sakitnya yang lebih besar ketika saya keperawananku hancur oleh laki-laki bejat itu daripada luka dan memar pada seluruh tubuhnya akibat pukulan ayah.
Sejak saat itu, harapanku untuk melanjutkan studi tidak lagi terlintas sedikitpun di benakku. Saya lebih memilih bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari kami dan untuk bisa memberi makan dan sekolah bagi adikku Rita jalan satu-satunya adalah menjadi seorang pelacur. "Lebih baik memberikan selangkangan untuk rupiah dan dihormati daripada diperbudak oleh kemiskinan dan harus menerima penindasan setiap hari, iya.. selangkangan ku bernilai rupiah" kalimat ini sudah benar-benar hidup dalam diriku. Aku tidak menjadi pelacur yang biasa tetapi saya harus menjadi pelacur yang elegan dan luar biasa sehingga siapa saja laki-laki yang ingin datang dan menikmati selangkanganku harus elegan dan luar biasa, berkantong besar. Sehingga seluruh tubuhku tidak akan sia-sia menikmati ranjang yang sama dengannya.
Setelah sampai dirumah, ibu menyambut kedatangan saya dengan sebuah senyuman yang tulus. Ia sudah menyiapkan makan malam untuk Saya dan Rita. Dia tidak pernah tahu, saya bekerja sebagai pelacur selain menjadi seorang Cleaning Service. Karena saya tidak ingin memberitahunya, saya hanya ingin memberi kebahagiaan bagi jiwa dan pikiran selama sisa hidupnya.
Apalagi akhir-akhir ini, ibu sudah sering sakit-sakitan dan lebih banyak beristirahat daripada bekerja. Ia sering batuk-batuk, memegang perut dan dadanya.
Saya tidak pernah tahu sakit apa yang dideritanya karena ibu sendiri tidak pernah mau untuk diperiksa dan dirawat dirumah sakit


Hari ini, setelah saya menjemput Rita dari sekolah saya langsung menuju ke istana Mama Renjong untuk bekerja. Setelah menghabiskan malam dengan para lelaki yang bejat dan tidak berperasaan tersebut saya pulang kerumah sahabatku dan mengenakan pakaian Cleaning Servis kemudian pulang ke rumah. 

...
Saya menikmati pekerjaanku sebagai pelacur karena disini saya merasa dihormati tanpa harus ditindak dengan tidak hormat. Setiap hempasan, erangan yang dibuat-buat dan rasa sakit pada selangkanganku akan melahirkan rupiah. Seperti itulah cara saya hidup.

Ibu kembali di keabadiannya ketika adikku menyelesaikan SMP. Dan sekarang Rita menyelesaikan studinya di perguruan tinggi ternama dan menjadi seorang Majelis Hukum Internasional. Saya yakin Ibu bangga dan bahagia melihat keberhasilan yang telah dicapai oleh adikku. 
Ketika saya melihat keberhasilan Rita, air mataku selalu jatuh dan saya selalu bangga pada diri saya sendiri bahwa "saya berhasil melahirkan seorang manusia yang akan melawan bejatnya dunia dari penindasan, keegoisan, kemunafikan, keserakahan dan nafsu birahi yang berserakan dimana-mana melalui rupiah yang dilahirkan secara hormat dari selangkanganku "
Dan hari ini, saya akan berhenti karena saya sudah menyelesaikan tugasku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egosentrisme Tingkat Goblok-Tulisan dari hasil duduk bermenit-menit di toilet✔️