Puisi || Pemulung
Pemulung
Aku sudah sampai
Setelah melalui banyak tanya dan jeritan dimana-mana
Aku sudah sampai disini
Beristirahat mengerikan darahku yang masih mengalir
Belum berhenti.
Pelipis ku layaknya pipa air, mengalir deras hingga tubuhku penuh butiran darah
Kau tau, beginilah caraku memberi balasan pada tubuhku
Kubiarkan darah ini terus mengalir, ia akan berhenti ketika kau datang membawakanku sebait puisi dalam kepalamu
Sebelum sampai disini
Aku berjalan dengan segala isi jiwaku
Tak lupa aku membawa sebuah cahaya pelita yang mengalir bersama dengan darah dalam nadiku.
Kau tau dia siapa ?
Dia adalah si Pelita dengan sumbu yang masih panjang.
Sekarang dia ada disampingku
Menjerit ketakutan karena isi perutnya ingin meledak
Ingin bebas dari keegoisan duniawi
Ia duduk menatapku dan sumbu dalam tubuhnya melilit seluruh isi dalam jiwaku.
Kau tau apa yang akan aku perbuat ?
Aku membiarkan nya mencampakanku, hingga ia lelah dan akhirnya padam dengan sendirinya
Jika aku membutuhkan nya lagi, akan aku nyalakan lagi sumbunya
Aku bukan egois
Tetapi aku mencintainya
Karena cahayanya yang akan menerangi mimpi dan tidurku di atas tumpukan sampah
Karena cahayanya yang akan memasak makanan milik selokan dan got hasil curianku
Kemudian kau tahu bagaimana darah dari pelipis ku berhenti mengalir karena puisi dari isi kepalamu ?
Karena bait yang kau tulis adalah sebagian dari luka yang kau curi dari diriku
Kau tak punya malu
Seenaknya mengeluarkan puisi dari isi kepalamu,
Sementara aku terlantar kehilangan sajak yang ku tata rapi dalam ingatanku
Semuanya hilang, kau hilang, dia hilang dan si cahaya pelitaku meredup.
Iya… aku tak lagi punya daya mengais tanah yang akan aku sajikan untuk selembar kertas milik perut mungilnya
Sampai disini. Aku berhenti disini.
Jika kau sanggup kumpulkan sajakmu saja dan letakkan setulusnya pada telapak tangan ku.
Aku akan kenyang dan tertidur
Kupang, 26 Oktober 2019
@C_patria
Komentar
Posting Komentar