Kisah Cinta Mahasiswa PPL || CINLOK || Patah hati si Manis Veronika
Patah Hati si Manis Veronika
Kristina Nur Patria Krisna
Aku baru saja selesai membaca buku karya Harris Effendi Thahar ketika lonceng istirahat dibunyikan.
Rasanya puas, ketika bel dibunyikan aku telah merampas seluruh isi dan makna dari buku Kiat Menulis Cerita Pendek karyanya.
Isi buku Itu rasanya seperti mencuri seluruh perhatianku. Sampai aku lupa bahwa pengunjung perpustakaan sekolah sudah sepi. Semua orang sudah dari tadi keluar untuk menenangkan diri dari situasi yang cukup membuat suntuk.
Pelajaran yang cukup padat, siswa yang tidak mendengarkan arahan gurunya, siswa yang bolos saat jam pelajaran atau juga karena lelah setiap hari hanya bersua dengan tugas dan kewajiban yang sama.
Bagiku cukup menyenangkan. Pagi-pagi sudah berangkat sekolah, dengan menikmati segala hiruk pikuk penghuni semesta, juga mentari yang selalu cantik di pagi hari, berdiri pagi-pagi buta di halte bus untuk menunggu angkot ke sekolah. Kemudian ketika tiba sekolah, masuk kelas dan memulai pelajaran, jika ada jam pelajaran yang dijadwalkan.
Setelah selesai pelajaran langsung kembali ke perpustakaan lagi untuk menyiapkan segala sesuatunya. Tugas siswa yang harus diperiksa, data soft skill yang harus diisi dan mempersiapkan soal-soal UTS. Itulalah mengapa satu Minggu terakhir suasana sekolah cukup tenang, siswa dan guru masing-masing menyiapkan diri untuk menghadapi ujian tengah semester.
Sambil menyiapkan segala keperluan sekolah dan kelas, aku selalu menikmati suasana perpustakaan yang jarang sekali ada pengujung. Siwa, guru dan juga pegawai sekolah jarang menghabiskan waktu di perpustakaan. Bagiku itu adalah kesempatan yang berharga untukku menikmati ketenangan sambil mendengarkan lantunan musik dari lagu- lagu lama dengan melodi yang pelan dan tentunya sangat membuat suasana kian sejuk dan tenang.
Bagiku itu adalah aktivitas yang menyenangkan dan memberi ku banyak renungan tentang makna dan arti dari segala sesuatunya.
…
"Tidak ke kantin Bu ?"
Tanya pak Markus sembari memegang cangkir kopi milikinya.
"Eh pak, sedikit lagi Pak, soal-soal UTS yang aku siapkan untuk siswa Xll IPS sudah hampir rampung" jawabku tanpa mengalihkan pandangan ku dari layar laptop.
"Baiklah, aku akan menunggu Ibu disini, saya juga sebentar mau ke kantin untuk makan siang" tegasnya.
"Tidak apa-apa Pak menunggu saya disini ?" Tanyaku dengan perasaan tidak enak.
"Ah, tidaklah Ibu. Aku juga ingin menemani Ibu mengerjakan tugas-tugas Ibu".
"Baiklah Pak, terimakasih"
Aku melanjutkan tugasku, sementara pak Markus menikmati secangkir kopi hangatnya sembari mendengarkan lantunan lagu dari musik perpustakaan.
Aku hanya tertunduk dan serius pada layar laptopku, aku tidak bisa menatap sekeliling dengan bebas. Menatap rak buku yang tertata rapi dengan buku siswa, rak buku yang lain yang berserakan dan bukunya berhamburan di lantai begitu saja tanpa ada yang peduli.
Sorot mata Pak Markus dari tadi sesekali menatapku tajam tanpa sedikitpun mengedipkan alis matanya yang tebal. Aku tersipu malu dan tidak mampu berkata-kata dan berharap semoga waktu secepatnya mencuri pekerjaan dan suasana yang sedang kualami sekarang.
Pak Markus benar-benar memenjarakanku denga tatapannya. Untuk menghindari perasaan canggung dan malu, aku tak sedikitpun peduli pada tatapannya.
…
"Silahkan Bu". Seru pak Markus
mempersilahkan aku menikmati sepiring nasi ikan dengan segelas pop ice yang dipesannya.
"Terimakasih ya Pak, aku tadi tidak tau kalau Pak menunggu saya untuk membelikan saya makanan" tukasku dengan sedikit perasaan malu.
"Ah, tidak apa-apalah Ibu kan sekali-sekali juga saya mentraktir Ibu" katanya sambil mengangkat sebuah kursi kayu untuk duduk tepat di sampingku.
"Silakan makan Bu"
Iya pak, terima kasih kasih.
…
"Ibu pernah pacaran ?" Tanya pak Markus mendadak ketika aku memasuki satu sendok nasi yang terakhir ke mulutku.
Makananku rasanya sudah mau aku muntahkan kembali. Sesendok nasi yang aku masukkan kedalam mulutku rasanya seperti sebesar setengah tar penuh dan besar yang membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan.
Aku berusaha untuk tenang. Menelan nasi yang dikunyah sedari tadi tak habis-habis juga. "Aku tidak boleh gegabah atau terlihat kaget" pikirku dalam hati.
Setelah aku menelan nasi ku pada sendok terakhir, aku meneguk pop ice kemudian mengatur posisi duduk yang sebenarnya masih sopan dan nyaman. Sesungguhnya ini adalah taktik ku ketika dalam suasana bingung dan tidak tau harus memberi jawaban apa.
Aku menarik nafas pelan-pelan kemudian menghembuskan nya pelan-pelan.
"kenapa pak Markus menanyakan soal itu?" Tanyaku sembari memperhatikan kedua telapak tangannya yang dikepal kuat entah karena gugup atau takut dengan jawaban yang akan saya berikan.
"Jika masing kosong, aku ingin mengisinya Ibu". Katanya sambil tertunduk.
Suasana seketika diam.
Hanya terdengar siswa-siswi yang ribut rebutan naik pagar sekolah untuk bolos. Mba Asih, pemilik kantin masih sibuk melap piring-piring yang sudah dicucinya sambil menatap kami dengan perasaan penasaran, layaknya menonton sebuah sinetron yang sudah memasuki episode terakhir dan mengharapkan sebuah ending yang memuaskan.
…
Pak Markus menatapku hangat, menunggu reaksi apa yang akan aku berikan.
Aku masih diam dan terpaku. Aku benar-benar bingung harus memberi jawaban apa. Setelah dia menyatakan perasaannya hari ini, aku baru menyadari maksud dan tujuan dari segala perhatian dan kebaikannya selama kurang lebih 2 bulan yang sudah berlalu.
"Jika benar-benar ingin…"
Aku belum menyelesaikan kalimatku ketika , Ibu Susi teman Guruku dari Universitas Citra Bangsa, memanggilku untuk menemaninya meminjam buku di perpustakaan. Dia meminta bantuanku karena hanya aku dan beberapa teman guru PPL ku yang cukup akrab dengan pegawai perpustakaan. Maklumlah, kami adalah pengujung setia perpustakaan setiap hari.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung berdiri dan menghampiri Ibu Susi. Meninggalkan Pak Markus yang dengan sabar menunggu jawabanku yang tidak dilanjutkan.
"Lalu bagaimana Ibu ?" Teriak pak Markus dari pintu kantin.
"Nanti dulu pak". Jawabku sambil meninggalkan kantin dan berjalan menuju keperpustakaan bersama ibu Susi.
...
Diperjalanan pulang kerumah, aku berjalan tanpa memperdulikan teman-teman Guru PPL yang disamping kiri dan kananku. Mereka sedikit heran dengan tingkahku hari ini, karena biasanya kami adalah calon-calon Guru yang paling heboh ketika pulang sekolah tanpa memperdulikan terik matahari yang menusuk ubun-ubun hingga membuat darah dalam nadiku mendidih dan hampir habis.
"Kenapa Bu Veronika ?" Tanya Ibu Linda tiba-tiba.
"Tidak Bu, aku hanya kepanasan saja, matahari kali ini benar-benar egois. Membakarku hingga hangus dan tak lagi berdaya". Jawabku dengan nada melemah dan tanpa memperhatikan tatapan heran dari Ibu Linda. Kami melanjutkan perjalanan, hingga berhenti di pertigaan jalan menuju ke TDM dan Liliba untuk menunggu angkot ke halte.
…
Pukul 14.30, aku sampai di rumah.
Hp ku berdering. SMS singkat dari pak Markus mengganggu istirahat siangku hari ini.
Aku benar-benar lelah setelah seharian berpacu dengan segala tugas dan aktivitas sekolah apalagi ditambah dengan jalan kaki sepulang sekolah yang cukup jauh dan melelahkan.
HP ku berdering lagi. Aku masih tak peduli.
Aku merebahkan tubuh di tempat tidur. Melepaskan penat dan lelahku sepanjang hari.
…
Aku membuka HP, SMS dari pak Markus yang masih belum kubaca.
Aku menghembuskan nafas pelan, mengatur denyut jantungku sebaik mungkin. Menata hati dan pikiranku agar imajinasi liar ku tak menjalar.
"Bagaimana Ibu ?" Itulah kalimat yang ada dalam pesan singkat itu.
"Baiklah, mari kita memulai segala sesuatunya, dan aku berharap kita akan menjadi baik-baik saja tanpa harus terluka ataupun lelah" aku membalas pesan singkat dari Pak Markus.
Setelah membalas pesan singkat dari pak Markus. Aku tersenyum-senyum sendiri. Menggenggam HP erat dengan kedua tanganku kemudian meletakkan kedua tangan ku didada. Rasanya jantungku berdetak berbeda dari biasanya, lebih cepat dan tak berhenti.
Aku benar-benar ingin teriak. Rasanya aku sedang melayang di langit kosong. Tanpa ada apa-apa hanya aku dan segala keceriaanku yang berserakan dimana-mana.
…
Pagi ini rasanya berbeda dari hari-hari kemarin. Aku sangat bersemangat menyambut suara Ayam yang berkokok di pagi-pagi buta untuk membangunkan warga menyambut hari ini yang cukup luar biasa bagiku.
Pagar sekolah sudah terbuka, aku langsung masuk ke lingkungan sekolah dan mencari sosok diantara beratus-ratus manusia yang lalu lalang di lapangan sekolah.
Dia yang kucari ternyata sudah dari tadi menatapku yang berdiri kebingungan di depan pintu perpustakaan sekolah.
Aku hanya tersenyum menyambut tatapannya, kemudian melangkah ke dalam perpus untuk menyimpan tas dan menyiapkan buku dan segala sesuatunya untuk pelajaran jam pertama.
…
Aku melangkah keluar dari lingkungan sekolah, pak Markus ternyata sudah menungguku untuk pulang sama-sama dengannya menggunakan motor beat biru kesayangannya.
Kami menikmati perjalanan yang cukup panjang dari sekolah. Banyak cerita dan pengalaman yang diceritakan pak Markus kepadaku perihal masa lalu, cita, cinta juga masa depan. Aku dengan tenang mendengarkan ceritanya. Aku merasa sangat nyaman dengan segala tentangnya. Perilakunya ramah, suka tersenyum dan sedikit humoris membuatku lupa bahwa bagaimana caranya berhenti untuk jatuh cinta setiap hari.
Saya dan pak Markus menjalani proses PPL sama-sama. Tugas dan berkas-berkas PPL kami bekerja sama untuk melengkapi semuanya.
Aku merasa nyaman didekatnya. Nyaman sekali.Perjalanan waktu rasanya cepat sekali, Sehingga tanpa terasa sudah dua bulan kami menjalin hubungan asmara, hubungan kami berjalan baik-baik saja. Pertekaran, cuek dan saling cemburu tak sedikitpun terlintas dibenak kami. "Terima kasih waktu, aku bahagia". Ujarku dalam hati ketika kami menikmati nasi ayam sepiring berdua.
...
Kami memasuki bulan terakhir PPL,
Yaitu bulan Desember. Semua teman-teman guru termasuk aku dan pak Markus sudah selesai ujian.
Untuk waktu tersisa diakhiri-akhir Desember, kami melengkapi laporan PPL untuk dikumpulkan ke program studi dan juga disekolah.
Setelahnya kami menikmati liburan Natal dan Tahun baru 2020. Kesempatan untuk melepas penat selama PPL 6 bulan yang sudah kami lalui dengan beribu-ribu kisah tentang siswanya, Bapak dan ibu guru, pegawai perpustakaan yang ramah, kantin sekolah yang ramai setiap hari, mba Asih yang tidak henti-hentinya menagih utang di siswa-siswi sekolah, cinta, jatuh cinta. Semuanya kini menjadi kenangan.
Aku dan Pak Markus masih sering berbagi cerita dan saling mengirim pesan singkat via WA yang sudah menjadi makanan ringanku setiap hari.
Kami menikmati liburan akhir Desember di kampung masing-masing sebelum kembali ke rutinitas kampus untuk memulai tugas akhir dan melanjutkan konsultasi proposal dan skripsi bagi teman-teman yang sudah memulainya semenjak PPL.
…
1 Januari 2020, aku menikmati senja dari beranda rumah yang hampir pamit kepada langit.
Aku risau. Entah kenapa, sepanjang hari ini aku tidak tentang. Aku tidak peduli pada lambaian senja yang beranjak pergi. Pikiranku masih terus tertuju pada Pak Markus. Tidak biasanya dia tidak mengabariku sepanjang hari. Sudah berkali-kali aku melihat layar HP dan membuka pesan singkat dari WA, berharap dia mengucapkan tahun baru untukku.
Tetap kosong dan sepi.
Aku merasa seperti ada yang hilang dari diriku. Resah dan gelisah menghantuiku setiap hari. Tahun baru di 2020 menjadi tak menyenangkan bagiku. Januari kali ini, tak sebaik Januari kemarin, rasanya aku akan dibunuh disini. perkara hati dan perasaanku akan menjadi bahan tertawa si Januari kali ini.
Aku benci. Aku benar-benar benci pada diriku sendiri. Juga kepada Januari yang datang terlalu cepat. Jika tau akan seperti ini, mungkin dari awal aku tak memulai coretan tak bertinta pada kertas baru bersampul surga yang ternyata tak seindah isi pada halaman terakhir ceritanya.
Pak Markus sepertinya sudah tak lagi punya keinginan untuk pulang.
Hari-hari terakhir Januari, aku masih menunggu pesan singkat darinya.
Tetap saja. Masih kosong dan sepi.
Aku menyesal. Sangat menyesal. Kini aku menyadari, semuanya sudah berakhir.
Perihal hati dan perasaanku yang berkecamuk membuatku menjadi hancur dan berantakan.
Ini adalah kisah paling kejam dari perihal tentang CINTA.
SEKIAN
Kristina Nur Patria Krisna
Pendidikan Biologi Undana.
Guru PPL SMA Negeri 7 Kupang.
Tokoh utama : Si Markus dan Veronika.
Tokoh figurAn : Ibu Sussi (Universitas Citra Bangsa), Ibu Linda (Universitas Nusa Cendana). Dan masih banyak lagi termasuk ibu guru dan pak guru cantik dan ganteng dari UNKRIS . Tidak disebutkan namanya dalam cerita (Ibu Petra, Ibu Vhira, dan Ibu-ibu yang lain😁😆😆💚💚


Komentar
Posting Komentar