Cerpen. Senja dan jejak


Bimoku sedang cantik-cantiknya menikmati suasana petang yang menurutnya cukup bersahabat untuk dinikmati dengan secangkir kopi hangat.
Beranda rumah penuh dengan orang-orang yang duduk bersantai melepas lelah setelah seharian berpacu dengan segala harapan dan kenyataan hidupnya.
Aku sendiri masih seperti biasanya. Menikmati beranda rumah yang tak cukup tenang, pepohonan, angin kencang dan sesekali suara anjing-anjing milik tetangga menggonggong, semakin membuat suasana kian bising.
 sangat tidak tenang bagi orang-orang yang tidak menyukai keramaian. Termasuk aku yang sedari tadi disini.
"...Aku tersentak, ketika sepasang mata menatapku sendu dari arah cahaya senja yang hampir pergi.
Sulit aku menebak, pemilik siapa sepasang mata itu.
Samar-samar aku melihatnya di bawah terang cahaya senja. Berlawanan dengan arah cahaya, bagiku cukup sulit untuk menebak sosok siapa yang sudah sedari tadi menatapku dari sana... "
Aku berusaha menebak sosok itu, tetapi menyadari aku yang sudah mengetahui keberadaannya, dia lalu pergi. Sosoknya menghilang di persimpangan jalan menurun ke Lasiana. Bentuk punggungnya pun sulit sekali untuk aku tebak, cahaya senja menyembunyikannya dariku.

Aku kembali menikmati beranda rumah yang sudah cukup tenang, angin kencang sudah tak lagi membuat pepohonan di halaman saling beradu bunyi, berseak-seok dengan suara dahan dan ranting yang hampir patah. Anjing tetangga yang jumlahnya cukup banyak pun sudah dibawa masuk oleh tuannya kedalam kandang.
Aku akhirnya bisa menikmati suasana petang yang tenang. Pikiran dan hatiku sudah mulai beradu pendapat tentang kemarin, hari ini dan esok dan segala sesuatunya.
"...Aku kadang tidak memahami diriku sendiri. Bagiku dunia akan sangat terasa asing bagiku, ketika aku hendak menemukan kembali segala kisah tentang diriku sendiri kemarin dan hari ini.
Rasanya setelah melalui satu hari yang cukup padat dengan berbagai kenyataan dan perjalanan hidup, aku merasa semua orang menghilang dari kehidupanku. Ketika ada titik-titik dalam satu hari itu yang aku lalui dibawa tekanan. Semua terasa seperti banyak orang menghilang.
Kemana orang-orang itu ? Pikirku..._" 
Apakah semesta dan orang-orang itu memang kadang suka naif ?suka meninggalkan ketika benar-benar dibutuhkan ? kadang hidup memang seperti itu, banyak yang pergi ketika kamu dalam kondisi sulit. Tetapi akan datang ketika keadaanmu baik-baik saja.

Setelah petang yang membuat suntuk suasana hati dan pikiranku, aku teringat lagi dengan sosok yang masih enggan untuk menunjukkan dirinya.
Aku hanya menunggu, kapan ia akan kembali.
Esok atau mungkin petang di waktu yang lain.

Aku menyadari bahwa aku sudah terlalu lama terlena dengan sosok misterius itu, hingga aku lupa bahwa aku harus menyelesaikan segala sesuatunya.
Menata hati dan pikiranku agar tetap pada pendirian bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja.

…" Tepat pukul 15.30, aku kembali pada suasana seperti biasanya, menikmati beranda rumah dengan secangkir kopi hangat, musik dan sebuah novel lama karya Elif Shafak. Bagiku itu adalah waktu yang tepat untuk menikmatinya.
Kali ini, perasaanku berbeda. Novel yang tergeletak di samping kiriku masih belum aku buka sama sekali. Hatiku sepertinya menantikan sesuatu yang pikiranku sulit untuk menebaknya.
Iya, sosok misterius yang datang beberapa hari yang lalu.
Sesaat setelah tersadar dari lamunanku, kini yang aku nantikan datang lagi.
Sosok itu, berdiri tepat di bawah pohon duri yang letaknya tidak terlalu jauh dari halaman rumah, tempat aku beristirahat.
Kali ini dia berdiri dengan penampilan yang agak berbeda. Mengenakan jaket hitam dengan penutup kepalanya, kedua tangannya ia letakkan di saku kiri dan kanan jaketnya. Menatap ke arahku tanpa sedikitpun menoleh ke kiri dan ke kanan. Sulit aku menebaknya, karena dia berdiri berlawanan membelakangi cahaya matahari yang hampir pamit kepada langit.
Anehnya, Aku malah semakin penasaran. Tanpa perasaan takut sama sekali, aku melangkah perlahan mendekatinya, dengan sorot bola mataku yang terus mengarah padanya. Saat aku hampir berada tepat di hadapannya. Dia berbalik dan melemparkan sebuah surat yang sudah di tidak terbentuk. Surat itu sudah kusut, seperti sudah diremuk berkali-kali karena emosi dan kecewa yang dipendam.

"Aku pergi. Pulang bukan lagi inginku".

Itu adalah kalimat yang tertulis dalam suratnya. Aku masih bingung dengan isi surat tersebut.
Tetapi setelah beberapa saat, aku meneteskan air mata. Aku merasa benar-benar hancur, untuk saat ini,  aku benar-benar ingin berteriak sekeras-kerasnya.
Penyesalan kini benar-benar membunuh semangatku. Aku kehilangan segalanya, harapanku berujung pilu.

Kupang, 02 Juli 2019

Written by : Kristina Nur Patria Krisna


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egosentrisme Tingkat Goblok-Tulisan dari hasil duduk bermenit-menit di toilet✔️