Surat untukmu || Fiksi Mini


Rasanya aku tidak perlu basa basi, kamu juga sepertinya memang sudah paham maksud dan tujuanku kali ini.
Kamu juga tidak perlu terlalu berfikir bahwa ini adalah surat yang aku rangkai dengan kata-kata bak mutiara indah dan menawan. Hanya deratan kalimat yang lahir dari hatiku.  Dan juga dari pikiranku tentang segala rasa penasaranku tentangmu sekarang. Itu saja. Sepertinya aku memang sedang merindukanmu. Ah tidak, mungkin itu terlalu akrab. Aku hanya ingin mendengar ceritamu lagi. Sebagaimana dulu, kamu selalu membuka suasana saat kita hening dibawah langit malam. Menceritakan segala sesuatunya, perihal rasa, masa depan juga waktu yang kian menghilang tanpa pamit dan sepengetahuan kita.
Sudah lama ya, tetapi ingatanku masih sama. Segala kisah tentangmu, masih saja aku rasa bahwa kemarin baru kita menghentikan segalanya. Rasa yang bergulir pada waktu. Akhirnya kita hentikan karena alasan kamu lelah. Alasan yang menurutku sangat tidak masuk akal. Tetapi sudahlah, aku baik-baik saja dan perlu kau tahu, saat hatimu mendiami separuh dari jiwaku kamu adalah nama yang selalu aku ceritakan, yang selalu aku istimewakan diatas segala yang ada dalam hidupku.
Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Mungkin aku sudah lancang, tanpa permisi menceritakan kembali kisah tentang kita.
Baiklah terlebih dahulu aku ingin menyapamu.

Kamu apa kabar  ?

Mungkinkah disana sedang mendung mau hujan ? Kuharap cerah-cerah saja.
Dari pagi tadi hingga malam sekarang, di sini masih hujan. Bukan gerimis tetapi hujan deras.
Bagaimana denganmu di sana ? malamku kelam. Iya, kamu pasti tau saat hujan deras turun pada malam hari akan ada banyak cerita tentang masa lalu.
Kepada rintiknya, kisah demi kisah aku bongkar berlahan-lahan,
memoriku mulai memilah kisah yang bahkan diriku sendiri menolak untuk membukanya. Sepertinya, memang aku sedang merindukanmu.
Aku tidak sedang bercanda. Pahamilah.
Seperti itu yang terjadi padaku sekarang.
Lucu ya, kisah-kisah itu bahkan memenuhi sudut ruangan.
Layaknya sebuah album, lembar-lembar cerita dari setiap kisah pada hari-hari yang berbeda seperti melayang-melayang berkelap-kelip dilangit kamar yang gelap.
Kemudian kisah-kisah itu memenuhi diriku, merasuk hingga segala pikiranku berkecamuk lalu tersenyum-senyum sendiri dan bahkan menyisakan tangis. Seperti itulah saat hanya hujan yang mampu medeskripsikan hati dan suasana.

Oh iya, bagaimana dengan perjalananmu kemarin ? Aku dengar kamu sudah lama menjalin hubungan asmara dengan seorang perempuan yang menawan dan cantik hatinya. Sepertinya, itu yang mereka ceritakan padaku.
Mungkin untuk saat ini, aku terlalu memaksakan diri untuk mencari tahu tentangmu. Kau perlu tau, aku tidak butuh cerita dari mereka. Aku hanya ingin, kamu yang yang menceritakannya. Tentang apapun itu, kisah asmara dan hubunganmu yang semakin erat. Ceritakanlah, barangkali ada yang perlu aku tambahkan diresep bahagia yang lupa kau tabur. Kau tidak perlu malu untuk menceritakannya padaku, kau pasti sudah tau aku, tidak perlu terlalu rumit dan memikirkan perasaanku. Kau tahu, aku bahagia saat kau sudah kembali kepada dirimu sendiri. Memulai kisah yang baru dengan segala resep bahagia yang mungkin sedikit berbeda dari resep bahagia denganku kali lalu.
Jika kau sudah siap untuk berbagi cerita denganku, ceritakanlah. Aku akan sangat senang sekali mendengarnya. Mungkin sesekali aku akan tertawa, membaca tulisanmu saat kau menceritakan tingkah konyolmu sebagimana biasanya atau kamu yang selalu menanyakan kabar setiap menit meski kau tahu aku sedang sibuk.


Mungkin kamu berfikir, aku sudah kelewatan, menulis surat untukmu tanpa perasaan malu. Kau tidak perlu kecewa atau marah jangan pula kau menghilang dan membenciku. Sejujurnya aku hanyan ingin menyapa malammu, maaf bila kau  terganggu. Jujur, aku kesepian dan berharap kata-kataku ini bisa menemani. Aku sudah menutup album tentang kisah-kisah kita. Lembaran-lembaran album itu berlahan kututup rapat-rapat, jika sempat akan aku buka kembali dilain waktu. Kau taukan aku mudah lelah, jadi aku tidak ingin terus membukanya karena aku tidak mau terlarut dan lupa mengistirahatkan lelahku sepanjang hari ini pada malamku.

Sekarang, aku hanya memiliki malam sebagaimana dia memilikiku.

Oh iya, sekarang diluar hujan sudah berhenti tetapi gerimisnya masih meringkih terkekeh mengantar lamunanku pada kantuk, aku sendiripun sudah lelah bersua tentang masa lalu. Pikirku, ah sudahlah biarkan aku mulai merebahkan segala lelah dan kecewaku hari ini pada malam. Aku tahu mimpi akan membawa semua rasa sakit itu pergi. Kembali, esok pagi mentari akan menyapaku dengan keindahannya dan semesta telah menjajikan segala sesuatu yang luar biasa untuk kumulai kerjakan esok.
Sudah dulu ya, mari istirahat karena besok semesta akan memberimu ruang bersama waktu untuk terus berlabuh.
Salam hangatku, Patria

Kupang, 16 Maret 2019


Written by : Kristina Nur Patria Krisna

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egosentrisme Tingkat Goblok-Tulisan dari hasil duduk bermenit-menit di toilet✔️