Puisi. Sajakku Mati.




Sajakku mati.

Aku si diam dan si pilu.
Adakah sepotong hati dimatamu ?
Mengapa terus diam pada resah dan pilunya ?
Gapailah dia !
Lihatlah, Ada rindu dan harap pada bola matanya

Aku si luka.
Rintihku, apa kau pernah peduli ?
Mengapa padamu sajakku mati ?
Kemana kau bawa pergi sepotong hati itu ?
Mengapa kau masih mencari, aku masih disini dengan diam dan lukaku
Dimana letak hati itu ?
Mengapa terpaku pada keputusasaan dan lelahnya ?
Lihatlah, Ada banyak mimpi pada rintihnya.

Aku si batu.
Diamku, apa kau paham ?
Aku tau kau terluka karenaku.
Maaf, hati itu menghilang.
Aku sudah berpuisi.
Aku sudah bersajak pada aksara.
Apa jawabannya ?
Tidak ada yang perlu dirisaukan.
Menghilang dan pulang saja, ia tidak akan kembali.

Aku si angin
Belaian manisku, pahamkah kau apa maksud semua itu ?
Bisikan lembutku, sampaikah itu pada hatimu ?
Dimana kau berlari saatku mencari ?
Aku sudah lelah. Aksara tak membalas.
Aku ingin pulang. 
Puisiku kini mati dan kosong dihatimu.

@C_patria. Bimoku, 19 Juni 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egosentrisme Tingkat Goblok-Tulisan dari hasil duduk bermenit-menit di toilet✔️